Membuat Dampak

Seorang pemimpin yang berdampak juga memberikan kejelasan arah dan tujuan bagi para pengikutnya. Mereka perlu mengupayakan agar para bawahan mengerti the why of work. Para pengikutnya perlu menyadari arti dan nilai dari apa  yang mereka kerjakan. Dari sinilah akan timbul inspirasi, motivasi, dan nilai-nilai yang  dihayati anak buahnya hingga mereka terdorong untuk berprestasi.

Seorang pemimpin berdampak akan menunjukkan cara berpikir yang sistematik.  Situasi bisnis terkini dengan ekosistemnya penuh dengan hal-hal yang terinterkoneksi dan tumpang tindih. Pemimpin perlu mengurai dan menyusun sistematika permasalahannya agar ia dapat menavigasi kelompoknya dan memampukan mereka untuk bersikap responsif terhadap ketidakjelasan dan perubahan-perubahan mendadak yang terjadi.

Pemimpin yang memiliki helicopter view dapat membantu anggota timnya agar lebih memahami mengapa dan bagaimana mereka mengatur responsnya.  

Oleh karena itu, untuk menjadi lebih berdampak, pemimpin perlu meningkatkan keterampilannya dalam beberapa hal berikut ini.

1. Menguatkan energi tim. Tim akan mengeluarkan energi lebih kalau mereka merasa pasti, aman dan jelas sasarannya. Seorang pemimpin perlu terampil merabarasakan energi tim yang mulai melemah. Di sinilah ia perlu meningkatkan komunikasi yang mengingatkan kembali pada tujuan kelompok, mengurangi kekhawatiran, dan meningkatkan moral.

2. Menggalakkan kolaborasi, baik secara internal maupun eksternalBigger results come from bigger efforts. Sebagai pemimpin, kitalah yang perlu memiliki obsesi untuk menyatukan bagian-bagian yang masih terpisah, yang tentunya menyulitkan inovasi. Kita perlu meyakini bahwa kolaborasi akan membawa banyak kemungkinan lain yang bisa menjamin kesuksesan yang lebih besar.

3. Menumbuhkan kreativitas. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, kita dapat memancing kreativitas anggota tim. Diskusi-diskusi positif akan menelurkan inovasi. Ketika tanya jawab seperti ini sudah menjadi kebiasaan, tim akan tumbuh menjadi tim yang kuat dan kreatif.

4. Menggunakan pengaruh, bukan kekuasaan. Semenjak kapan pun, tidak ada bawahan yang senang ditekan dan dipaksa. Kesabaran, kehalusan tutur kata, dan persuasi akan memperlemah hati yang keras sekalipun sehingga dapat membangun sambung rasa untuk meningkatkan dampak.

5. Memberikan penghargaan. Hargai kemajuan sekecil apa pun itu. Hindari suasana toksik yang penuh tegangan tinggi, bernada menghukum, dan penuh penilaian. Hindari “killer C”, seperti criticizing, complaining, comparing, colluding, ataupun contending. Pelihara kata-kata penuh energi. Dengan menebarkan semangat untuk maju, tim akan menunjukkan respek dan semangat serta meminimalisasi pemikiran tentang hambatan.

6. Berfokus pada apa yang benar, bukan siapa yang benar. Jangan berpihak. Manfaatkan konflik untuk menjadi sumber inspirasi perbaikan.

Smart Casual: Gaya Kemeja Bodypack yang Elegan dan Nyaman untuk Kantor

Berbicara tentang gaya kantor, kombinasi antara formal dan kasual semakin populer, khususnya dalam konsep...

Pre-Launch Tampilan Homepage Baru LindungiHutan

Startup lingkungan asal Semarang, LindungiHutan, baru saja mengumumkan tampilan website (homepage) terbarunya seiring dengan perayaan...

Horison Resort Tlogo Semarang, “A Journey Through Javanese Heritage”

Menutup 2024, Horison Hotels Group dengan bangga mengumumkan pembukaan Horison Resort Tlogo Semarang, sebuah...

- A word from our sponsor -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here